Bukan Hanya Mineral, Ini Alasan China-Rusia Gandeng Taliban

Editor: Redaksi author photo

Taliban (Foto: istimewa)

JAKARTA - Ketika kelompok Taliban menguasai Afghanistan yang ditinggalkan Amerika Serikat, China dan Rusia justru berkomunikasi erat dengan Taliban. Selain motif ekonomi, kedua negara jelas memiliki alasan dan tujuan lain terkait kebijakan keamanan dalam negeri masing-masing.

"China perlu membuat konsesi ekonomi dengan Taliban atau tidak, karena China sudah ada sebelum Taliban menang beberapa tahun lalu. Motivasi sebenarnya adalah ada masalah domestik antara China dan kelompok Uyghur yang selalu menginginkan kemerdekaan. China menginginkan Taliban. Jangan dukung Uyghur," kata Hamid Avaruddin., Senin (30 Agustus 2021).

Rusia telah melakukan hal yang sama. Negara yang pernah menguasai Afganistan ini juga memiliki kepentingan dengan Taliban di organisasi Muslim Dagestan di pegunungan Rusia utara.

“Jadi mereka berdua berpikir bahwa berteman dengan Taliban dapat membantu mencegah atau menekan situasi ini, setidaknya mereka tidak bersekutu dengan mereka (Muslim),” jelas Hamid.

Dari pihak Taliban berkepentingan menjalin hubungan erat dengan dua anggota pemilik hak veto di Dewan Keamanan PBB itu untuk menunjukkan kepada Amerika Serikat dan Eropa Barat agar mereka tidak macam-macam. Selain untuk 'beking', Taliban berharap kepada China dan Rusia bisa membantu membangun perekonomian saat menjalankan pemerintahan Afghanistan.

Selama ini roda ekonomi dan pemerintahan Afghanistan mengandalkan sumbangan dari banyak negara, seperti Jepang dan Amerika. Jepang diketahui yang mensubsidi gaji para pegawai Afghanistan. Begitupun kehadiran puluhan ribu pasukan Amerika ikut menghidupkan roda ekonomi warga Afghanistan dengan memasok makanan dan kebutuhan lain. [cut]

Selama ini roda ekonomi dan pemerintahan Afghanistan mengandalkan sumbangan dari banyak negara, seperti Jepang dan Amerika. Jepang diketahui yang mensubsidi gaji para pegawai Afghanistan. Begitupun kehadiran puluhan ribu pasukan Amerika ikut menghidupkan roda ekonomi warga Afghanistan dengan memasok makanan dan kebutuhan lain.

"Kehadiran Amerika sendiri di situ kan menggerakkan ekonomi karena ada puluhan ribu pasukan. Untuk suplai makanannya semua ada hitungan-hitungan praktisnya sebenarnya," ujar Hamid.

Meski Afghanistan masuk kategori negara miskin, pejabat militer dan ahli geologi Amerika mengungkapkan di Afghanistan ada kandungan mineral bernilai hampir US$ 1 triliun atau setara dengan Rp 14.400 triliun (kurs Rp 14.400 per dolar). 

Kandungan mineral terdiri atas besi, tembaga, sampai emas tersebar di seluruh wilayah Afghanistan. Bahkan ada kandungan lithium terbesar di dunia. Lithium merupakan komponen penting yang bisa digunakan untuk baterai isi ulang dan teknologi lain untuk mengatasi krisis iklim.

ika kelompok Taliban menguasai Afghanistan yang ditinggalkan Amerika Serikat, China dan Rusia justru berkomunikasi erat dengan Taliban. Selain motif ekonomi, kedua negara jelas memiliki alasan dan tujuan lain terkait kebijakan keamanan dalam negeri masing-masing. "China perlu membuat konsesi ekonomi dengan Taliban atau tidak, karena China sudah ada sebelum Taliban menang beberapa tahun lalu. Motivasi sebenarnya adalah ada masalah domestik antara China dan kelompok Uyghur yang selalu menginginkan kemerdekaan. China menginginkan Taliban. Jangan dukung Uyghur," kata Hamid Avaruddin. , Senin (30 Agustus 2021). Rusia telah melakukan hal yang sama. Negara yang pernah menguasai Afganistan ini juga memiliki kepentingan dengan Taliban di organisasi Muslim Dagestan di pegunungan Rusia utara. “Jadi mereka berdua berpikir bahwa berteman dengan Taliban dapat membantu mencegah atau menekan situasi ini, setidaknya mereka tidak bersekutu dengan mereka (Muslim),” jelas Hamid.Ketika kelompok Taliban menguasai Afghanistan yang ditinggalkan Amerika Serikat, China dan Rusia justru berkomunikasi erat dengan Taliban. Selain motif ekonomi, kedua negara jelas memiliki alasan dan tujuan lain terkait kebijakan keamanan dalam negeri masing-masing. "China perlu membuat konsesi ekonomi dengan Taliban atau tidak, karena China sudah ada sebelum Taliban menang beberapa tahun lalu. Motivasi sebenarnya adalah ada masalah domestik antara China dan kelompok Uyghur yang selalu menginginkan kemerdekaan. China menginginkan Taliban. Jangan dukung Uyghur," kata Hamid Avaruddin. , Senin (30 Agustus 2021). Rusia telah melakukan hal yang sama. Negara yang pernah menguasai Afganistan ini juga memiliki kepentingan dengan Taliban di organisasi Muslim Dagestan di pegunungan Rusia utara. “Jadi mereka berdua berpikir bahwa berteman dengan Taliban dapat membantu mencegah atau menekan situasi ini, setidaknya mereka tidak bersekutu dengan mereka (Muslim),” jelas Hamid.

Share:
Komentar

Berita Terkini