Luhut Hingga Sri Mulyani Dinilai Layak di Reshuffle

Editor: Redaksi author photo

Sri Mulyani dan Luhut Binsar Panjaitan

JAKARTA - Beredarnya isu reshuffle kabinet yang saat ini berembus membuktikan ada masalah di jajaran pembantu Presiden Joko Widodo.

Menurut Direktur Eksekutif Political and Policy Public Studies (P3S) Jerry Massie, reshuffle perlu dilakukan karena banyak menteri yang tidak progres dalam membantu kerja Jokowi.

"Memang bagi saya ada banyak menteri yang harus keluar dari kabinet selain kerjaannya tidak becus, juga tak ada progres atau kemajuan," kata Jerry saat dihubungi, Selasa (24/8/2021).

Jerry mengatakan jika ada jajak pendapat soal menteri-menteri yang layak direshuffle, mungkin nama-nama ini yang akan muncul.

"Menkeu Sri Mulyani yang terakhir menerbitkan utang Rp500 triliun lebih. Ada lagi Menteri Kesehatan Budi Gunadi, dan Mendikbudristek Nadiem Makarim," tambahnya.

Bahkan, Jerry mengatakan dua nama di posisi Menko, yakni Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menkoperekonomian Airlangga Hartarto layak direshuffle.

"Tapi agak sulit mereka direshuffle," tambahnya.

Pasalnya, menurut Jerry, keduanya sudah sangat dekat dengan mantan Wali Kota Solo tersebut.

"Keduanya punya chemistry dengan Jokowi, dan mereka sudah mencuri hati Jokowi. Ada rasa sungkan Jokowi sama mereka dan mereka bak anak emas Jokowi," katanya.

Padahal, menurutnya, karena kegagalan Luhut menangani pandemi, Indonesia sempat mencatatkan angka kematian tertinggi di Asia Tenggara.

Sekarang, jika Jokowi percaya sama publik dan mendengar masukan terkait reshuffle, Jerry yakin maka itu pertanda baik. Kecuali, dikatakan Jerry, parpol pendukung mengganti nama-nama menteri mereka.

"Kalau Jokowi elegan, maka dia menerima input yang konstruktif dari publik, pakar, akademisi bahkan profesional," katanya

"Ini akan sangat baik ada check and balance. Memang Jokowi perlu ambil bold action atau tindakan berani untuk melakukan reshuffle," pungkasnya

Share:
Komentar

Berita Terkini