TKA China Makan Buaya di Sultra, Roy Suryo: Tidak Bisa Ditolerir

Editor: Redaksi author photo

Foto yang beredar di media sosial TKA asal China menguliti buaya.

JAKARTA - Pakar telematika Roy Suryo angkat bicara terkait beredarnya foto di media sosial seorang tenaga kerja asing (TKA) China di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) menguliti buaya lalu memakannya.

Roy berpendapat, apa yang dilakukan oleh TKA China sangat diluar nalar. Bahkan ia meminta kepada Presiden Jokowi untuk berhenti mengizinkan TKA asal China untuk masuk Indonesia.

"Dari dulu saya bilang apa? Stop TKA China, Karena ini bukan lagi "terwelu" tetapi BIADAB, Kabar TKA2 China membantai buaya di kawasan pabrik PT Obsidian Stainless Steel (OSS) di Kecamatan Morosi Kabupaten Konawe, Sultra sungguh tidak bisa ditolelir," tulis Roy Suryo dalam akun Twitternya.

"Siapa Biang Kerok dibalik ini semua? AMBYAR," lanjutnya.

Sementara, BKSDA Sultra sudah menerima laporan tersebut dan mengecek lokasi tempat buaya dikuliti.

"Berdasarkan arahan dari kepala balai, kemarin sudah diturunkan tim dan sudah melakukan olah TKP dan dilakukan dokumentasi. Jadi informasi yang kami dapatkan bahwa setelah tim tiba di TKP, tinggal darah buaya yang ditemukan," ujar Kasi Konservasi Wilayah II BKSDA Sultra, Laode Kaida, Kamis (26/8/2021).

Laode mengungkapkan, mayat buaya secara utuh sudah tidak ditemukan di lokasi kejadian tempat buaya dikuliti. Selain jejak darah buaya, tim juga menemukan beberapa sisa daging buaya yang sudah dimasak.

Laode juga mengatakan bahwa rencananya hari ini akan dilakukan klarifikasi kepada TKA yang menguliti buaya tersebut.

"Rencana hari ini akan dipanggil pihak yang mengetahui hal itu (buaya dikuliti TKA) untuk dimintai keterangan setelah itu kami serahkan ke balai Gakkum untuk proses hukumnya," tegasnya.

Ditegaskan Laode, TKA yang menguliti dan memakan daging buaya itu terancam hukuman 5 tahun penjara, jika terbukti sengaja menangkap hingga memakan buaya.

"Kalau unsur kesengajaan maksimal penjara 5 tahun, sesuai dengan UU No 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistem," tegasnya.
Share:
Komentar

Berita Terkini