• Kamis, 26 Mei 2022

Ada Sakura di Lampung, Tapi Buka Bunga Terus Apa Itu?

- Rabu, 11 Mei 2022 | 08:04 WIB
 Festival Sakura merupakan festival yang di adakan setiap bulan Syawal sekitar tanggal 1 sampai 6 Syawal oleh masyarakat suku Lampung di daerah Kabupaten Lampung Barat. (Andika IdPost.co.id)
Festival Sakura merupakan festival yang di adakan setiap bulan Syawal sekitar tanggal 1 sampai 6 Syawal oleh masyarakat suku Lampung di daerah Kabupaten Lampung Barat. (Andika IdPost.co.id)



IDPOST.CO.ID - Festival Sakura merupakan festival yang di adakan setiap bulan Syawal sekitar tanggal 1 sampai 6 Syawal oleh masyarakat suku Lampung di daerah Kabupaten Lampung Barat.

Festival Sakura di adakan setelah bulan suci Ramadhan usai sebagai bentuk rasa syukur dan suka cita setelah menjalani ibadah puasa dan menyambut bulan Syawal atau bulan kemenangan.

Festival Sakura adalah bentuk expesi diri seseorang melawan hawa nafsu untuk mencapai kesucian diri baik secara jasmani maupun rohani.

Baca Juga: Profil dan Sederet Fakta Tentang Menjeng Kimhoa Sosok Tiktoker Info Masseh Asal Kediri

Festival Sakura juga merupakan ajang silahturahmi masyarakat Lampung antar desa atupun antar marga yang ada di Lampung Barat.

Festival Sakura sendiri merupakn tradisi turun temuran yang dihelar oleh masyarakat suku Lampung khususnya di daerah Liwa dan sekitarnya serta masyarkat Lampung yang dari daerah Liwa ibukota Kabupaten Lampung Barat.

Festival Sakura ini identik dengan topeng untuk menutupi wajah peserta. Kata Sakura berasal dari bahasa Lampung yaitu “sakhuka” yang artinya “penutup wajah”  sehingga dapat diartikan sebagai topeng.

Baca Juga: Bisa Menangkal Penyakit, Ini 3 Makanan Bisa Kurangi Infeksi

Dalam topeng Sakura terdapat dua jenis yaitu Sekura Betik atau bagus serta Sekura Kamak atau jelek.

Ciri dari Sakura tersebu di lihat dari kostumnya. Untuk Sekura Betik, masyarakat mengenakan kostum dan tupeng dari kain panjang atau selindang miwang khas Lampung Barat.

Untuk Sekura Kamak mengenakan tupeng terbuat dari kayu dengan beragam karakter dan pakaian seunik mungkin biasanya menggunkan daster ibu-ibu, potongan kain, potongan karung serta daun-daunan.

Baca Juga: Pengamat Sebut Lawatan Prabowo ke Megawai untuk Persiapan Pilpres 2024

Dalam tradisi ini menampakkan nilai-nilai sosial seperti gotong royong, dan kekeluargaan. Tradisi ini sekura menjadi kewajiban pinitianya secara turun temurun adalah bujang-gadis atau dalam bahasa Lampung  “Mekhanai-Muli“ desa yng mengadakan.

Festival Sakura tersebut di ahiri dengan msayarakat yang menggunakan topeng sakura memulai aksi Pajat pinangdengan hadiah-hadiah yang menarik seperti pajak pinang pada umumnya.

Editor: Nanang Habibi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puan Pastikan DPR Sahkan Revisi UU PPP Hari Ini

Selasa, 24 Mei 2022 | 10:44 WIB

Asik, Indonesia Dapat Kuota Haji Terbanyak

Sabtu, 21 Mei 2022 | 13:59 WIB
X