• Kamis, 1 Desember 2022

PBB Sebut Dunia Maya dan Medsos Perburuk Ujaran Kebencian

- Rabu, 22 Juni 2022 | 08:15 WIB
Ilustrasi gunakan medsos YouTube (PIXABAY)
Ilustrasi gunakan medsos YouTube (PIXABAY)


IDPOST.CO.ID - Presiden Sidang Majelis Umum ke-76 PBB Abdulla Shahid pada Senin (20/6) menjelaskan "dunia maya dan sosial media - dengan proliferasi disinformasi dan informasi palsu - sudah makin jadi memperburuk imbas ajaran kedengkian ke tingkat yang belum sempat terjadi awalnya."

Bicara pada beberapa negara anggota dalam sidang khusus majelis itu, yang sekalian mengidentifikasi Hari Internasional Menantang Ajaran Kedengkian, Shahid menambah "trend beresiko ini cuma berperan untuk mengadu domba kita saat persatuan diperlukan semakin besar dibandingkan awalnya."

Menurut dia, untuk menangani rintangan ini secara mendalam, warga internasional "harus memupuk kerja-sama global dan berpadu, merengkuh semangat kelompok yang direncanakan PBB untuk diperkembangkan, dan dicoba dirusak oleh ajaran kedengkian. Ajaran kedengkian ialah teror yang inheren pada nilai dan konsep kita."

Baca Juga: Terpilih Secara Aklamasi, Hesti Jadi Ketua IKA PMII Blitar Raya Periode 2022-2027

Penasihat Khusus PBB Untuk Penangkalan Genosida Alice Wairimu Nderitu secara eksklusif membacakan pesan dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Dia menjelaskan "kalimat menjadi senjata dan memunculkan kerusakan fisik," dan menambah "eskalasi ajaran kedengkian jadi tindakan kekerasan sudah mainkan peranan dalam kejahatan paling menakutkan dan ironis di jaman kekinian, dari anti-Yahudi yang menggerakkan holocaust, sampai genosida pada barisan Tutsi di Rwanda pada 1994."

Nderitu menjelaskan "internet dan sosial media sudah memacu ajaran kedengkian, memungkinkannya hal tersebut menebar seperti api melewati tepian."

Baca Juga: Penuhi Kebutuhan Akan Informasi, IdPost.co.id Jalin Kerjasama dengan VOA

"Penebaran ajaran kedengkian pada barisan minoritas sepanjang wabah COVID-19 menunjukkan lebih jauh jumlahnya warga yang paling rawan pada stigma, diskriminasi dan konspirasi yang dipropagandakannya," tegas Nderitu.

Editor: Nanang Habibi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X